Sabtu, 16 Agustus 2014

Lost on the Twenty-First Century Mountain

Hello, this is a poem I wrote about a trip with the rainbow family, deep into the Javanese mountains.









Lost on the Twenty-First Century Mountain



Look into the moss, is it deep in there /

ah vitamin green whizzing deep in there.

I see you're moving like a skulker on the deep -

the mud deep in your roving shoes;

we’re stuck up Gunung Salak, (the silver mountain)

and there is no food or drink in our Nothing-prepared-for-boycott-days.

Your legs have wobbled, they’ll wobble again

before we return from our state of anomie.

Take us, fatalistic gods of the fig trees,

whip our bums with palm leaves and send us down,

we’re in too deep.

But you, with your ideas that take the mind off its rails

are whisking us to a place beyond time.  Is there daylight

beyond time / time beyond lightday?

Oh fools we are, thinking we can beckon what we shooed away -

the light has lost the trees and we’re in too deep – teachers,

what shall we do now?  What do we know, that we did not learn

one hundred years ago, rock?

We’ve become deviant seers out here - we will die, anyway.

Scum! Boo! Silly Pooh! You think you want us but

you called us mad. Empty?  Ah, the leach, mad on my toe.

Let’s go back, before the light fades – this mountain is unpredictable.

This is moving away from logic but we just want Earth.

Our hands are the gates between structure and chaos.

(Brains search for cars on streets, elsewhere.  Shopping centre: light / holy

feeling on escalator / rush of chemical fabric / sexist drugs in nose.) 

We have run out of water and the sun thinks it’s dark.

Damn it’s real on the twenty-first century mountain

where we once had a dream – no, hold on – but we’re close to the end now.

Here, sleep is organic but we cannot lie down.  Not now.

The angels have flown on and the mud is too deep. 

Senin, 03 September 2012

Rainbow Art Project Book

After some armchair chat, djembe rolls, and talking about art and poetry and some of the poetry written at Rainbow Gathering we thought it would be nice to make a book of poetry and art by people who went to Rainbow Gathering.

The book could include poems, artwork, photos or anything else creative that you can think of.

///...

halloooooooo, ini update terakhir mengenai projek buku, aku kemarin bicara dengan temanku dari Jogja yang aktif di dunia kreatif disana dan banyak kenalan penulis dan penerbit, dia bilang lebih baik kalau buku itu diterbitkan sendiri, karena cara kerja penerbit di Indonesia yang tidak mau mengambil 'risiko'. ex: mereka tidak mau membantu biaya penerbitan tapi hanya mengambil royalti dari profit penjualan per buku.

Temanku juga bilang bahwa mayoritas artis dan penulis di jogja sekarng menerbitkan buku mereka sendiri dengan biaya sendiri, yang mana tidak sesulit kelihatannya. Biaya printing itu rendah kalau dilakukan secara direct dan informasi tentang printing agency yang murah tapi berkualitas kita pegang. Jadi kita hanya perlu membayar distributor untuk membantu arus penyebaran buku ke toko-toko buku besar / indie. Kita juga dapat info bahwa banyak pekerja seni yang mengkontribusikan karya mereka di Ubud Scriptwriting Festival di Bali yang diadakan di Bali setiap bulan October, dan sudah secara internasional diakui sebagai acara kumpul seniman dan pekerja seni yang cukup besar ( 10 besar gathering seniman ).



Tess sedang mengkondisikan sebuah program untuk menulis buku sehingga kita hanya perlu menginput puisi / foto/ sketch / bentuk karya lainnya. Kita hanya perlu editing untuk outlay dan pengaturan dari isi index buku itu. Kalaupun dia tidak bisa mendapatkan program itu kita sekarang sedang cari alternatif untuk program dari internet yang bisa men-support pembuatan buku.

Sejauh ini sudah ada 9 orang yang mau kontribusi karyanya ( Mufti, Karel , Adit, Radit, Tess, Lars, Kendra , Ervin dan saya, mungkin juga si Dimas ) Kalau ada orang lain yang hadir di RG kemarin dan tertarik dengan projek ini , tolooooong diforwardkan informasi ini ke mereka agar mereka bisa ambil bagian.

Jadi konsep bukunya kurang lebih seperti ini , mengenai karakter karakter kreatif yang bertemu di Rainbow Gathering pertama Indonesia ; penulis puisi, pelukis, fotografer, atau segala bentuk seni lainnya. Semua bentuk aksi kreatif kita terima , yang mana tidak harus terinspirasi oleh Rainbow tapi kita juga mengakomodasi  bentuk karya kreatif apapun dari masa lalu yang mau diikutsertakan. Karena yang paling signifikan adalah para karakternya dan manifesto seni mereka yang mana pada akhirnya kita semua satu unitas baik disengaja / tidak di Rainbow Gathering =D=D.

Yang mana informasi mengenai segala karya karya itu akan ditranslasikan menjadi dual bahasa (Indonesia dan Inggris ). Mengenai seni fotografi, bagi yang mau mengirimkan karyanya karena kita terbentur biaya printing maka akan lebih murah kalau karya yang dikirim / diedit adalah dengan tema " Black & White " kalaupun mau kirim yang berwarna maksimum mungkin 4-6 foto total ( untuk 1 buku itu ).


Sekarang yang paling penting adalah partisipasi dari kita semua untuk mulai AKTIF, karena kita semua tahu bahwa kita para rainbow brother dan sister adalah group of lazyass. jadi kita harus mulai mengirimkan dan memilah karya karya kita yang ada di bawah bantal atau berserakan di belakang lemari agar kumpulan manifesto itu bisa mulai aku dan Tess organisir sehingga semoga kita bisa selesaikan semuanya sebelum Festival di Ubud di bulan Oktober depan.

For the non-nasi eaters:

So this is an update on the book, I spoke to a friend from Jogja who knows lots of publishers in Jogyakarta and he said that it's better to get your book published on your own because publishers here don't take any risks, i.e. they don't pay for any of the publishing costs but they still take a large cut of the profits. He mentioned that many artists in Jogyakarta are now publishing their own books and apparently it's easy to do. The printing costs are low if you do it directly and then all you need to do is pay a distributor to help you get the book into shops. Also he said that many artists sell their books at the international scriptwriter festival in Ubud, Bali in October, the event is widely known as one of the top 10 biggest literary events in the world and some books have been recognised internationally there.


Tess might be able to get hold of a book writing program where you just input the poems/ art and then give it to the printers, it ws for another book but she can't remember if the disc included the software. If not we may need to look at internet programs which allow you to create your own book.


So far there are 9 of us onboard, Mufti, Karel, Adit, Tess, Lars, Radit Kendra, Ervin and me. (maybe Dimas) If you know anyone else who you think is interested please let them know.
 

So the concept of the book will be more or less this, about the creative characters who met at Indonesia's first Rainbow Gathering, poets, painters, photographers. You don't have to submit something inspired at rainbow, we also accept all art from the past that you wish to submit , because the most significant thing is the characters who met and their art manifesto which in the end bring us all as one unity, either intentionally or not , to Rainbow Gathering. To keep printing costs low, photos ideally should be black and white with maybe a maximum of 4-6 colour photos per book.
 
Could everyone start thinking about what they would like to submit because it would be nice to get it started soon, and if we can maybe finished before the literary festival in October.


Big Hippie Hug,

Jax and Yess

Minggu, 04 Maret 2012

Magma Boy - Max Geraldi

Under a volcano
where pieces of debris rendezvous
where small gods
surf the lake of fire

sits
a green moldy egg
made of the solidest rock
made of the toughest caldera
blanketed by an archaic lava dome

flames spark through the bursting crust
lights from inside hunt the oxygen

a howl of faith
a roar of conviction
cracks the shell open
with tectonic force

he floats
skates through a glacier of flame
like vulcan himself

a feature
the blind should be aware of

Kamis, 22 Desember 2011

Juggernaut - Max Geraldi

from all bushes we gather
circle and dance
under the naked night
meteor-showered by father

fireflies from mother
brighten our eyes

we twinkle
in our eyes
our soul

around the fire
into a barricade of wire
we hold each brothers and sisters to the vein
chanting 'truth'
stomping the ground where we were born from

with flora and fauna behind us
and the moon rays as our spear
we will be brave
we will revolt

shielded with love
and the philosophy of Dhakkan ' Guini
drunk on Thoreau

we will cast earthquakes underneath your feet
we will revoke our pandawas

elephants and rhinos will charge
whales and orcas will ram

we will stampede the thunder of your war drums
with our love mantras

O' juggernaut of the world
with your dark breath
you blackened our sky
your venomous horn
tears our earth's curtain
no longer can we feed your endless appetite
our
Dharma
dream eater

O' comely giant
our admiration has come to an end
we won't put gold plates
or jade cutlery
on your altar no more
If for that our soil is no longer sweet
If for that our land won't give birth to tomatoes no more

we will destroy your black sun


pandawas : knights from the tale of Mahabharata
Dhakkan 'Guini : The last Ka’bi Kgai’ya warrior of the Aborigines

Minggu, 09 Oktober 2011

Untitled Story - Dimas Prabowo

Malam itu api unggun yang pertama bagiku dan api unggun kedua atau ketiga bagi yang lainnya. Kami semua berkeliling berhimpitan membentuk sebuah lingkaran manusia dengan warna warni baju kami mengelilingi nyala api kecil. Salah seorang dari kami bergantian melakukan berbagai macam cara untuk membuat api tetap menyala, ketika usahanya buntu salah seorang dari kami meneruskannya. Begitu terus bergantian sembari salah seorang dari kami berkelakar atau mengajak bernyanyi. Beberapa tampak semangat bernyanyi, sebagian hilang dalam lamunan masing-masing dengan bayangan kobaran api di bola mata mereka. Malam semakin larut dingin semakin menusuk, api mulai membesar, beberapa pergi mencari kayu dan kembali membawa hasil. Mengisi indahnya bintang di langit kami mulai memperkenalkan diri satu sama lain, semua saling menyebutkan nama dan latar belakang, perlahan kuhapalkan nama mereka, terutama namanya. Dia yang menarik perhatianku dari menit pertama kuinjakkan kaki di Rancaupas. Dengan sabar kunanti saat sebuah jari “mencolek” dirinya, kudekatkan jariku ke api, mencari kehangatan yang tidak kudapatkan dari mengapitnya di ketiakku. Kulempar senyum kepada mereka yang ada di kiri dan kananku, senyum dan anggukan kepala kudapat sebagai balasannya. Aku melihatnya tersenyum,  menawan sekali. Nafasku sempat tertahan, tapi lagi-lagi dingin merusak segalanya, kali ini kudekatkan tangan dan kakiku ke api, rasa hangat mulai menjalar dan akupun lega.
 
Ia menyebut namanya, kulafalkan dalam hati. Mataku melirik ke arah lain entah karena takut dirinya akan merasakan pandanganku yang menusuk atau takut ketika bola mata kami beradu ia akan langsung membacanya. Perkenalanpun berakhir, kami mulai bercanda satu sama lain, melemparkan ejekan bersahabat yang disambut gelak tawa (penonton) yang lain. Aku ingat sebuah botol diestafetkan beberapa kali, dua tiga tenggak, lidahku melayang dan telingaku berdengung. Hal terakhir yang kuingat adalah alunan nada menyayat hati yang berasal dari petikan sebuah gitar dan suara seorang wanita. Kupejamkan mata dalam lindungan tendaku.
 
Pagi datang, hangatnya sleeping bag pada malam hari berubah menjadi neraka di saat matahari muncul. Beberapa orang tampak hilir mudik tanpa alas kaki berkeliaran di atas rumput hijau. Udara hangat mengusir semua keengganan malam hari, kuambil bukuku dan merebahkan diri diatas rumput, beberapa tampak sibuk memasak di dapur, dibawah sebuah pohon. Beberapa tampak berkemas-kemas bersiap meniggalkan perkemahan menuju kehidupan mereka di dunia, sementara yang lain memainkan gitar dan jimbe. Hatiku tergerak untuk melakukan sesuatu, bangkit berdiri kuhampiri mereka, duduk dan bersenda gurau dengan mereka, mulai mengenal beberapa diantara mereka lebih dalam dan menghapal nama mereka satu persatu. Seseorang datang berkeringat, mengajak beberapa diantara kami mengikutinya berjalan-jalan di sekitar areal perkemahan. Hatiku tertarik dan kedua kakiku melangkah melewati hamparan rumput hijau, sekawanan rusa tampak berlarian mengitari pagar di sekeliling mereka di bawah langit biru. Pepohonan kami lewati, perasaan seperti berada di hutan sempat kurasakan, kami mulai akrab dan tertawa terbahak-bahak, kehangatan mulai terasa. Kembali ke perkemahan suasana aman dan nyaman sangat kental seperti dirumah. Bumbu masakan mulai dipotong, air mulai diisi, semua orang mulai sibuk. Tanganku terjulur dan kakiku bergerak begitu juga yang lainnya, sekelompok kecil pergi kehutan mencari kayu untuk api unggun. Makanan siap, kami menari dan bernyanyi dalam sebuah lingkaran bergandengan tangan menyatukan hati berbagi cinta.
Dinginnya malam tidak lagi terasa menusuk suasana mulai menghangat dengan obrolan cerdas, semua orang berbagi isi pikirannya, beberapa mulai merasa ketertarikan dan kesamaan masing-masing. Kami semua individu-individu unik menjalin sebuah ikatan warna-warni yang kuat dan saling mengikat.
 
Ketiadaan rutinitas menciptakan keharmonisan karena semuanya membagi apapun yang dimiliki, keterampilan membentuk, memainkan dan menciptakan sesuatu bermunculan, tulisan, ide, ilustrasi dan pengalaman tertuang menjadi sebuah ide. Pemikiran mulai terbentuk dari mulut dan telinga masing-masing, api unggun menjadi sarana pengungkapan dan penyatuan kesemuanya itu. Satu per satu melodi menyayat hati dimainkan, masih dari gitar yang sama dan suara wanita yang sama kali ini beberapa instrumen tambahan terdengar mengiringi. Terkadang melodi berganti ceria, mencerahkan suasana, beberapa tampak menari atau sekedar menggoyangkan tubuh. Kupejamkan mata menikmatinya.
Api unggun terakhir dinyalakan, entah mengapa apinya membumbung tinggi, hangatnya sangat terasa dan cahanya terang benderang, kami menyanyikan sebuah lagu yang menyayat hati, semua diam tertegun entahlah apa yang ada di benak masing-masing. Aku tertunduk, mataku berair tapi hatiku lega. Satu persatu kami semua membuka diri, akupun menelanjangi diriku dan membagi semuanya kepada mereka, kulihat senyum tulus mereka mengembang. Aku bahagia.Aku merasakan cinta. Aku berada dirumah.
 
Tenda sudah terbongkar, seluruh barang terkemas dalam tas masing-masing. Beberapa masih saling berpelukan, beberapa hanya tersenyum dengan asap tebal dari api unggun terakhir sebagai latar belakang.  Akupun tersenyum, menundukkan kepala dan mengucap syukur. Aku menemukan jawaban, tapi yang terpenting aku menemukan cinta. Kupanggul tasku dan berjalan meninggalkan tempat itu setelah mengukir semua kenangan dalam hatiku. Aku masih melihatnya dan memeluknya, bola mata kami beradu dan ia mengerti, bahwa rasa cinta yang kuberikan kepadanya bukanlah cinta sepasang kekasih tetapi rasa cinta sesama manusia penghuni bumi. Ia tersenyum, begitu juga semua orang, kami semua saling mencintai.
Sekarang kaki kami melangkah ke arah masing-masing, beberapa ada yang melangkah bersama, akan tiba saatnya kaki-kaki kami berjumpa kembali dan debu-debu yang berada disana akan menceritakan sejauh apa kaki kami telah melangkah di atas bumi ini. 
 
Sampai purnama berikutnya pelangi hidupku…
 
Aku cinta kalian semua karena telah menginspirasiku melakukan banyak hal, terimakasih banyak.
Cheers  peace and love, Dimas.